Sabtu, 01 Desember 2012

Ringkasan Fiqh Dakwah Asy-Syaikh Musthafa Masyhur




           Buku Fiqh Dakwah ini ditulis oleh Asy-Syaikh Musthafa Masyhur, beliau adalah Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin kelima. Fiqh Dakwah ini terdiri dari 18 bab yang terhimpun menjadi 2 jilid buku. Susah untuk memilah dan memilih mana yang penting dan baik dari buku ini karena keseluruhannya memang penting dan baik untuk dibaca, dikaji dan diamalkan.

            Sesuai dengan namanya buku ini memang menyajikan beberapa ulasan tentang bagaimana sikap dan sifat seorang da’i itu seharusnya, dari mulai tahapan dalam dakwah, permasalahan-permasalahan di jalan dakwah, pentingya berjamaah, bekal yang harus dimiliki oleh para da’i, interaksi dengan mad’u dan hubungan antara pimpinan dan yang dipimpin dalam sebuah jama’ah. Karena buku ini ditulis juga oleh petinggi Ikhwanul Muslimin maka buku ini pun banyak terwarnai oleh pemikiran pendirinya yakni Asy-Syaikh Hasan Al-Banna, bahkan di dalamnya pun disisipkan sikap dan cara pandang Ikhwan terhadap beberapa permasalahan di tengah masyarakat dan juga jawaban atas tuduhan yang selama ini dituduhkan kepada Ikhwan.

            Ada empat poin besar yang bisa saya simpulkan dari buku ini yaitu; pentingnya bekal bagi seorang da’i, karakteristik seorang da’i sebagai individu, urgensi berjama’ah dan karakteristik seorang da’i baik sebagai pimpinan ataupun anggota sebagai bagian dari jama’ah.

            Bekal bagi seorang da’i adalah suatu keniscayaan yang wajib adanya karena da’i ibarat seorang musafir, ia tentu membutuhkan bekal yang banyak dalam perjalanannya dan bekal yang utama bagi seorang da’i adalah keimanan dan ketaqwaan. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam kitab-Nya yang suci
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ  
“..dan berbekallah kalian karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa maka bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqoroh : 197)
Tapi tentu tidak hanya itu, ia juga membutuhkan sahabat-sahabat yang shalih, pembimbing yang menuntun, memberikan pengarahan, pengalaman dan lainnya, sehingga ia menemukan kekuatan tekad dan terhindar dari penyimpangan serta kekeliruan yang besar.

            Da’i sebagai individu muslim yang baik juga wajib mengislamkan dirinya secara totalitas, tidak parsial. Untuk itu ia harus memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut : keselamatan aqidah dan kekuatan iman, kebenaran ibadah, keteguhan akhlaq, wawasan pemikiran, kakuatan fisik, kemampuan bekerja,
berguna bagi orang lain, rapi dalam semua urusannya, perhatian terhadap waktu dan melawan nafsu. Sepuluh karakteristik ini adalah unsur-unsur yang asasi dalam setiap tahapan rekonstruksi dakwah dari pembentukan pribdai muslim yang kokoh, keluarga, masyarakat, pemerintahan hingga daulah dan khilafah. Seiring dengan orisinilitas dan keteguhan individu muslim ini, maka diharapkan akan menjadi orisinil dan solid pula tahapan-tahapan berikutnya begitu juga sebaliknya.

            Di setiap perjuangan tentu harus ada target-target yang jelas yang harus dicapai dan tentu mustahil dapat dicapai kalau hanya melalui upaya individual saja tanpa adanya jama’ah maka keberadaan jama’ah itu mutlak adanya. Karena melalui jama’ah itu seluruh potensi bisa terhimpun dan terorganisasi dengan baik dan tahapan-tahapan perjuangan juga bisa digariskan dengan jelas. Rasulullah SAW juga pernah bersabda yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: 
إن الله لا يجمع أمتي أو قال أمة محمد صلى الله عليه وسلم على ضلالة ويد الله مع الجماعة
            “Sesungguhnya Allah tidaklah mengumpulkan umatku – atau Beliau bersabda: Umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- di atas kesesatan, dan tangan Allah bersama jama’ah.”(HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2167).

            Keberadaan jamaah juga tidak terlepas dari unsur-unsurnya yang penting seperti pemimpin dan anggota serta ikatan dan komitmen yang wajib ditaati oleh masing-masingnya. Untuk itu komitmen keanggotaan, undang-undang, medan operasional, syarat-syarat keanggotaan dan sarana-sarana jama’ah yang lain dapat menjamin kesinambungan pertumbuhan dan perluasan wilayah operasionalnya sehingga ini semua menjadi unsur-unsur utama yang harus diperhatikan selain itu juga dengan menjaga kemurnian jama’ah dengan beriltizam kepada Alquran dan Assunnah. Jadi intinya ada tiga unsur utama yang membangun jama’ah yaitu : pimpinan, manhaj dan anggota. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar ibnu Khoththob,”tidak ada islam tanpa jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”

2 komentar: